Advertisement

BNNP Sumsel, Musnahkan Barang Bukti Narkotika Hasil Ungkap Kasus Jaringan Malaysia-Palembang-PALI

0 0
Read Time:4 Minute, 18 Second

Atianews.com Palembang – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Selatan (Sumsel) musnahkan barang bukti narkotika 45,5 kilogram sabu, 9439 bukti ekstasi dan etemidate sebanyak 140 buah catridon, yang merupakan hasil ungkap kasus jaringan internasional Malaysia-Palembang-PALI.

Pemusnahan yang digelar di Halaman Kantor BNNP Sumsel tersebut, Kamis (18/9/2026) dipimpin oleh Kepala BNNP Sumsel, Brigjen Pol Hisar Siallagan dan dihadiri langsung Gubernur Sumsel, Dr H Herman Deru.

Turut hadir juga, Wakil Ketua DPRD Sumsel, H. Nopianto, Wadir Ditresnarkoba Polda Sumsel, AKBP God Parlasro Sinaga, Kasi B, Asisten Pidum Kejati Sumsel, Raadi Oktia Nofi dan Hakim Ad Hoc Tipikor Pengadilan Tinggi Sumsel, Faisal Amrullah.

Gubernur Sumsel, H Herman Deru menekankan pentingnya memperkuat peran keluarga, masyarakat desa, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat dalam upaya mencegah serta memutus mata rantai penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Sumsel.

“Upaya pemberantasan narkoba saat ini tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Oleh karena itu pencegahan harus dilakukan secara berlapis, mulai dari lingkungan keluarga hingga desa dan kelurahan,” ujarnya.

Ia sampaikan bahwa Sumsel selama ini memiliki berbagai capaian positif, baik di bidang pangan, penanganan stunting maupun sektor pembangunan lainnya.

“Berbagai prestasi tersebut harus diimbangi dengan perhatian serius terhadap ancaman narkoba yang dapat merusak kualitas sumber daya manusia,” harapnya Deru.

Deru menilai, data survei mengenai penyalahgunaan narkoba harus menjadi perhatian bersama. Penurunan angka statistik tidak boleh langsung dimaknai bahwa persoalan narkoba telah selesai, sebab masih terdapat kemungkinan adanya masyarakat yang belum terdeteksi dalam survei.

“Kalau angka statistik di Sumsel turun, jangan kita bangga dulu, bisa jadi daerah lain yang naik jumlahnya, karena dalam survei, terutama menyangkut narkoba, orang tentu cenderung merahasiakannya,” jelasnya.

Lanjut dia mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya mengandalkan teknologi maupun informasi dari satu sumber dalam mengungkap jaringan narkoba. Menurutnya, karakter jaringan narkoba yang tertutup membuat upaya pemutusan mata rantai membutuhkan keterlibatan masyarakat.

“Tantangannya adalah bagaimana memutus mata rantai peredaran narkotika. Semakin tinggi teknologi pihak penegak hukum, mereka juga meng-upgrade dirinya. Karena itu, informasi dari masyarakat menjadi sangat penting,” katanya Deru.

Lebih lanjut Deru, juga menyoroti bahwa dalam rantai peredaran narkoba, tidak semua pihak memiliki posisi yang sama. Pengguna, kurir, hingga pelaku yang berada pada tingkatan lebih tinggi memiliki peran berbeda dalam jaringan tersebut. Pihak yang berada di lapisan bawah, termasuk kurir, dalam banyak kasus juga dapat menjadi korban dari jaringan narkoba.

“Dampak narkoba tidak berhenti pada individu pengguna. Ketergantungan narkoba dapat berkembang menjadi persoalan sosial dan ekonomi, bahkan berpotensi mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal untuk memenuhi kebutuhannya,” terangnya.

Generasi muda merupakan salah satu penentu masa depan bangsa. Karena itu, pengalaman dan pengetahuan mengenai bahaya narkoba harus terus ditularkan kepada generasi muda agar mereka memiliki keberanian menghadapi persoalan dan tidak mencari jalan keluar melalui penyalahgunaan narkoba.

“Kita pernah muda semua. Kenapa kita bisa sampai pada titik ini sekarang, minimal itu yang bisa kita tularkan kepada generasi muda. Kita tidak ingin mewariskan generasi berikutnya menjadi generasi yang hancur,” imbuhnya Deru.

Pada kesempatan tersebut, Herman Deru juga mengapresiasi BNNP Sumsel yang dinilainya telah mampu mengintegrasikan kerja sama dengan berbagai pihak dalam pemberantasan narkoba, mulai dari masyarakat di desa hingga para mitra kerja.

“Sinergi tersebut harus terus diperkuat dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan,” pesannya.

Khusus kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel, dia mendorong agar sosialisasi bahaya narkoba menjadi bagian yang semakin diperkuat dalam program kerja organisasi.

“Hal Ini penting untuk memperkuat peran tokoh agama dalam memberikan edukasi kepada masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BNNP Sumsel Brigjen Pol. Hisar Siallagan menyampaikan bahwa pemusnahan barang bukti merupakan bagian dari upaya bersama dalam memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Sumsel.

“Kami berharap langkah tersebut dapat terus memperkuat perlindungan masyarakat, khususnya generasi muda, dari bahaya narkoba,” ucapnya.

Menurutnya, Sumsel saat ini masih menghadapi tantangan serius terkait penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan survei enam tahun lalu, Sumsel tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi penyalahgunaan narkoba yang cukup tinggi secara nasional.

“Dari sisi pemberantasan, BNNP Sumsel pada 2025 berhasil mengungkap dan menyita sekitar 29 kilogram sabu dan 20 ribu butir ekstasi. Sementara hingga 2026, pengungkapan telah mencapai sekitar 65 kilogram sabu, disertai barang bukti narkotika lainnya,” bebernya Hisar.

Keberhasilan pengungkapan tersebut tidak semata-mata diukur dari banyaknya barang bukti yang disita, tetapi dari keberhasilan membongkar jaringan peredaran gelap narkoba.

“BNNP Sumsel bekerja berdasarkan data intelijen, informasi masyarakat, serta analisis terhadap jaringan untuk memastikan para pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum,” terangnya Hisar.

Lanjut Jenderal Bintang Satu ini, menilai penyitaan puluhan kilogram narkotika memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai ekonominya.

“Dengan diamankan dan dimusnahkan barang bukti narkoba ini, berarti kita sudah mencegah narkoba beredar dan dikonsumsi masyarakat, terutama generasi muda, yang dapat merusak kesehatan, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia sampaikan bahwa pemberantasan narkoba membutuhkan proses panjang, terutama untuk mengungkap bandar dan jaringan utama.

“Saat ini para pelaku terus mengembangkan pola dan kemampuan untuk menghindari penindakan. Oleh karena itu, BNNP bersama aparat penegak hukum terus melakukan pendalaman dan penelusuran terhadap jaringan serta aliran dana,” pintanya Hisar.

Terakhir Hisar mengajak seluruh pihak untuk tidak berhenti memerangi narkoba. Kritik dan komentar masyarakat, termasuk terkait pengungkapan jaringan narkoba, dijadikan sebagai motivasi untuk meningkatkan kinerja pemberantasan.

“Kita tidak akan berhenti. Para bandar dan jaringan narkoba, cepat atau lambat, akan terus kamikejar dan proses sesuai hukum,” tutupnya Hisar (Ril/Zul).

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *